Kurir COD: Antara Tugas, Harapan, dan Drama di Lapangan
Halo, Sobat Belanja Online Siapa nih yang hobi belanja online tapi pilih metode pembayaran COD alias Cash On Delivery? Hayo, ngaku! Pasti banyak banget yang lebih milih COD karena rasanya lebih aman—barang datang, baru bayar. Tapi pernah nggak sih kalian berpikir, gimana rasanya jadi kurir yang tiap hari anterin paket COD kalian?
Jadi
kurir COD tuh nggak semudah yang dibayangkan, lho. Di balik kemudahan yang
kalian rasakan, ada perjuangan berat para kurir yang kadang bikin hati ambyar.
Mulai dari panas-panasan di jalan, hujan-hujanan, sampai harus berurusan dengan
berbagai macam karakter pembeli. Nah, kali ini kita bakal ngobrolin serba-serbi
kehidupan kurir COD yang penuh drama. Siapa tahu setelah baca ini, kalian wahai
para buyer budiman jadi makin paham dan nggak tega buat ghosting mereka.
Simak sampai habis, yaah
Kehidupan Kurir COD yang Penuh Lika-Liku
Jadi Kurir COD: Antara Tugas Mulia dan Cobaan
Menjadi
kurir COD itu ibarat petualangan setiap hari. Mereka bangun pagi, mengambil
puluhan paket di kantor, lalu menyusuri jalanan, gang-gang sempit, sampai
perumahan yang jalannya muter-muter kayak labirin, jalanan kampung yang
jalannya udah ga karu karuan. Dengan motor yang penuh sesak oleh paket, kami
tetap semangat karena berpikir paket-paket ini adalah kebahagiaan buat
penerimanya.
Tapi
tahukah kalian, di balik senyum ramah kami saat mengantar paket, ada rasa
was-was yang mengiringi? Apalagi kalau paketnya bernilai besar. Kami cuma bisa
berharap penerima paket benar-benar ada di rumah dan siap membayar sesuai
tagihan. Karena kalau tidak, siap-siap aja dompet menipis. FYI: gais perlu di ketahui yah, bayaran kami perpaket untuk di daerah itu gak sampe 2 ribu perak lho! alangkah teganya kalian jika membatalkan paket dengan alasan yang tidak jelas apalagi alasan belum ada uang.
Dilema Kurir: Antara Target dan Realita
Setiap
hari, kurir punya target paket yang harus terkirim. Kalau banyak paket gagal
terkirim, bisa-bisa komisi berkurang, bahkan kena marah sama atasan. Nah, salah
satu penyebab gagal kirim terbanyak adalah drama pembeli yang suka ghosting.
Udah
capek-capek nyari alamat, tiba-tiba pas ditelepon nggak diangkat. Atau diangkat
tapi ngomongnya, "Aa, titip sama tetangga aja ya, saya lagi di luar kota
minta tolong talangin." Waduh, kan panik! Soalnya paket COD itu aturannya
ketat. Harus terima langsung sama yang punya alamat, apalagi kalau nominalnya
besar. Kalau dititipkan, risiko terjadinya salah paham atau paket hilang jadi
tanggungan kurir. Jadi daripada ambil risiko, lebih baik paketnya dibawa pulang
lagi. Repot, kan?
Drama "Janji COD": Sumpah Manis di Chat
Nah, yang
satu ini sering banget bikin kurir geleng-geleng kepala. Ada aja pembeli yang
janji manis lewat chat ke penjual atau kurir, "A nanti jam 10 saya udah di
rumah, janji deh langsung bayar." Udah diiyakan, kurir pun meluncur ke
lokasi dengan harapan berkobar. Sampai di sana... rumah kosong melompong.
Ditelpon berkali-kali, ujung-ujungnya dijawab, "Maaf A, saya lupa ada
acara mendadak. Besok aja ya?" Emm lagu lama iyemah.
Parahnya
lagi, ada yang janji mau transfer COD. Istilahnya, paketnya tetap diantar, tapi
nanti uangnya ditransfer setelah paket diterima. Ini jelas nggak masuk akal
karena sistemnya sudah diatur dari awal: barang sampai, uang langsung dibayar
tunai. Kalau percaya percayaan kayak gini, bisa-bisa kurir yang rugi. Uang
paket harus disetor, tapi duit dari pembeli nggak ada.
Ada juga pembeli yang bilang "A, nanti saya Tf aja yah" kedengarannya meyakinkan, tapi kenyataannya tidak selalu begitu. Setelah paket diberikan, trasfer tidak kunjung datang. Kurir yang akhirnya harus menanggung resiko itu.
Situasi seperti ini bikin kurir serba salah, mau gak percaya takut rugi. Mau tegas, takut dianggap tidak ramah. Jadi inget pepatah "Janji tinggal janji, uang tinggal kenangan" wkwkwk
Mohon maaf, yang seperti ini memang salah secara SOP dan tidak patut di tiru karna penuh dengan resiko, tapi ya beginilah realita di lapangan. Kami berani menempuh jalan meskipun itu berisiko.
Kemalangan Lainnya yang Sering Dialami Kurir COD
Selain ghosting dan ingkar janji, masih banyak cerita duka kurir COD yang jarang diketahui pembeli. Contohnya pas kurir sudah di depan rumah, pembeli malah minta diskon di tempat. "A, ini barangnya nggak sesuai foto, kurang gede. Dikurangin dikit boleh nggak?" buset dah dikira warung klontongan apa akita. Padahal kurir cuma bertugas mengantar, bukan negosiasi harga. Kalau harga diturunin, selisihnya harus ditanggung kurir. Miris, kan?
Ada juga
pembeli yang sok sibuk banget. Begitu kurir datang, disuruh nunggu lama dengan
alasan "sebentar lagi, mandi dulu" atau "nunggu uang pas
dulu". Padahal kurir masih punya puluhan paket lain yang harus diantar
tepat waktu. Belum lagi kalau rumahnya di dalam gang yang nggak bisa dimasukin
motor, kurir harus jalan kaki sambil bawa paket gede sendirian. Capek hati,
capek fisik, tapi demi dapur ngebul, semua dijalani dengan ikhlas.
Pesan untuk Para Buyer COD
Nah,
Sobat, setelah membaca cerita di atas, sekarang kalian jadi lebih paham kan,
gimana susahnya jadi kurir COD? Mereka bukan cuma sekadar tukang antar paket,
tapi juga manusia biasa yang punya perasaan, punya keluarga yang menanti di
rumah, dan punya target yang harus dicapai setiap harinya.
Jadi,
mulai sekarang, yuk kita jadi pembeli yang baik dan bijak. Kalau udah pesan
dengan metode COD, tolong dipahami dulu sistemnya: barang datang, uang
dibayar lunas. Nggak ada tawar-menawar di tempat, apalagi janji manis yang
ujungnya malah bikin kurir gigit jari.
Kalau
kalian tahu bakal pergi atau sibuk, tolong jangan pesan paket COD di waktu itu
itu. Atau kalau terpaksa, pastikan ada orang lain yang bisa menerima dan
membayar. Angkat telepon dari kurir, jangan di-ghosting. Balas chat
dengan sopan, jangan dibiarin. Percayalah, kebaikan kecil kalian akan sangat
berarti buat mereka. Mereka akan pulang dengan hati senang karena paketnya
habis terkirim, dan kalian pun senang dapat barang yang diinginkan.
Pada akhirnya,
sistem COD itu menguntungkan kalian sebagai pembeli. Tapi di balik kemudahan
itu, ada perjuangan kurir yang patut diapresiasi. Jadi, jangan sampai kalian
jadi pembeli yang bikin kurir kapok. Hargai waktu dan tenaga mereka. Kalau
bukan kita yang mulai berubah, siapa lagi Ingat, menjadi pembeli yang baik
adalah cerminan pribadi yang dewasa dan bertanggung jawab. Tetap semangat
belanja online-nya, tapi jangan lupa hargai jasa para kurir pahlawan jalanan
kita!
karna pada akhirnya, belanja online yang nyaman itu bukan hanya soal paket sampai, tapi juga soal saling menghargai antara pembeli, penjual dan kurir.

Post a Comment for "Kurir COD: Antara Tugas, Harapan, dan Drama di Lapangan"